jump to navigation

Book The Week : Menyerah 15 Mei 2018

Posted by yorigroup in Liputan Khusus.
trackback

buku ini adalah kiriman dari sahabat saya dari Jepang, Konita, dia sedang menempuh studi Master di Hiroshima University.

berikut adalah rangkuman singkat dari buku tersebut.

 

“Menyerah? Setapak langkah Kami, Maju untuk Berhasil”, sebuah judul buku inspiratif yang ditulis oleh calon-calon ilmuwan muda tentang bagaimana mereka berani bermimpi dan berusaha meraih cita-cita dalam hidupnya. Tidak ada kesuksesan yang diraih secara instan, melainkan dengan perjalanan yang panjang dan berliku.

Kisah pertama menceritakan perjalanan Iva Nandya Atika, seorang gadis berasal dari Klaten yang memiliki cita-cita menjadi seorang guru membagikan cerita singkatnya bagaimana dia bisa menjadi mahasiswi S2 di Hiroshima University, Jepang. Bagi Iva, sikap berani patut dimiliki anak-anak Indonesia sejak dini, contoh sederhananya seperti melakukan perkenalan diri di depan kelas. Rasa takut dan malu pasti ada, tetapi dengan keberanian kita pasti bisa mengalahkannya. Dengan begitu, dapat melatih kita untuk bisa mengambil sikap positif di antara teman-teman. Keberanian juga menjadi bekal utama untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Iva sangat menikmati masa-masa sekolahnya, Ia sejak kecil sudah membiasakan diri untuk tekun belajar. Karena baginya, semua ilmu yang Ia dapatkan dibangku sekolah akan bermanfaat di masa depan. Sejak SD, Iva sudah gemar mengukir prestasi dengan mengikuti berbagai lomba yang diadakan di sekolahnya. Target itu perlu, agar kita bisa terus terpacu dan semangat untuk mencapai target itu. Setelah tamat dari bangku sekolah, Iva memilih jurusan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Yogyakarta untuk merealisasikan cita-citanya menjadi seorang guru. Dan dia berhasil lulus dengan predikat Cumlaude, dilanjutkan dengan pendidikan S2 nya di Hiroshima University, Jepang.

Kisah kedua berjudul “Biasa-biasa aja”, menceritakan tentang seorang wanita yang tumbuh dari serba keterbatasan bernama Dwi Fatmawati. Namun, ia mampu merubah keterbatasan itu menjadi tidak ada batas. Keterbatasan itu menggambarkan kondisi ekonomi keluarganya yang memang sangat pas-pas an. Dwi pun merubah persepsi bahwa pendidikan tinggi tidak hanya bisa dirasakan oleh orang kaya atau dari tembok yang tinggi saja, tapi orang kecil pun bisa. Asalkan semua itu diraih dengan adanya niat dan semangat yang tinggi untuk terus belajar. Sewaktu dibangku sekolah, Ia pernah menjadi korban bully oleh temannya. Namun hal itu tidak mematahkan sedikitpun semangat Dwi untuk terus belajar agar mendapatkan nilai dan prestasi yang bagus di sekolah. Menurutnya, mengalahkan seorang pembully itu bisa dengan cara menjadi lebih baik daripada si pembully. Semasa kuliah, ia sempat merasakan rasanya salah jurusan. Ia mengambil jurusan bimbingan dan konseling yang memang bukan minatnya. Tetapi dengan semangat yang tinggi, untuk bisa meraih gelar sarjana seperti yang ia impikan, akhirnya ia bisa menyelesaikan pendidikan S1 nya di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Kisah ketiga menceritakan tentang Resti. Gadis yang juga hidup dalam keterbatasan seperti halnya Dwi Fatmawati. Ia terlahir dari keluarga yang serba terbatas, ayahnya menjadi buruh pabrik di ibu kota. Namun, pada masa krisis moneter, ayahnya terkena PHK hingga akhirnya keluarga resti bergegas pindah ke sebuah desa yang jauh dari hingar bingar ibu kota. Mengetahui kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pas an, tidak mematahkan semangatnya untuk bisa sekolah di sekolah-sekolah favorit. Prestasi pertama yang ia dapatkan ketika di bangku sekolah yakni mendapatkan peringkat ketiga dikelas. Resti juga senang mengikuti lomba-lomba yang diadakan di sekolahnya, meskipun jarang mendapat juara juga, lantas ia tak patah semangat dan malah menjadikannya pengalaman yang berharga. Suatu ketika, ia pernah mendapatkan nilai raport matematika sangat jelek hingga membuat ibunya kecewa. Matematika adalah satu-satunya mata pelajaran yang tidak ia sukai. Sejak kegagalan itu, ia bertekad tidak akan mengecewakan ibunya lagi. semangat belajar yang tinggi membuatnya menyukai matematika hingga akhirnya ia bisa mendapatkan nilai memuaskan. Atas prestasi-pretasinya dan semangat belajarnya yang tinggi, ia mampu mewujudkan mimpinya hingga ke negeri sakura. Ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk pendidikan S2 nya di Hiroshima University, Jepang.

Ardiana Konita menceritakan awal mula ia menentang pilihan ayahnya untuk mengambil jurusan pendidikan guru SD (PGSD) agar mewariskan profesi ayahnya. Ia diterima di jurusan pendidikan guru dari jalur SNMPTN Undangan. Pilihan itu membuatnya merasa sulit untuk menggapai mimpi-mimpinya. Menurutnya, ia sudah berusaha cukup keras belajar setiap hari semasa sekolah, lantas mengapa akhirnya menjadi seorang guru? Ia ingin bisa kuliah di universitas-universitas bergengsi seperti anak lainnya.  Hingga akhirnya, ia menetapkan pilihannya mengikuti permintaan ayahnyaa untuk menjadi seorang guru. Seiring berjalannya waktu, ia menikmati masa kuliahnya dan akhirnya berhasil menuntaskan pendidikan S1 nya. Setelah lulus, ia bekerja menjadi guru di sekolah dekat rumahnya. Kurang lebih setahun, ia memberanikan diri mengikuti seleksi beasiswa S2 di luar negri. Berkat ketekunan dan usaha nya selama ini, ia berhasil diterima di Hiroshima University jurusan pendidikan.

Berikutnya adalah kisah seorang laki-laki yang sangat patuh kepada kedua orangtua, terlebih ayahnya. Ahmad Fajri, mahasiswa S1 jurusan farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini, memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, yakni keliling dunia hingga seribu negara. Fajri aktif mengikuti pertukaran mahasiswa di berbagai negara dan ia sempat tergabung menjadi Finalis Mahasiswa Berprestasi Nasional 2017. Kisah memiluhkan yang ia ceritakan adalah ketika ia hendak pergi untuk pertukaran pelajar di salah satu universitas di Bangkok. Ia selalu menceritakan apa saja yang sudah ia capai ke ayahnya. Saat itu, ayahnya sedang sakit keras. Meskipun begitu, ayahnya selalu memberi semangat dan pesan-pesan positif untuk Fajri agar tidak patah ssemangat dalam meraih mimpi-mimpinya. Sehari sebelum ia berangkat menuju Bangkok, ayahnya meninggal dunia. Pesan-pesan yang diberikan oleh ayahnya akan selalu diingat dan membuatnya semakin semangat untuk terus mewujudkan mimpinya dan membanggakan nama keluarganya.

Seperti pada umumnya, Kisah Imron Azami mengenal Anime dari televisi pada masa kanak-kanak. Dari Anime lah, Imron tertarik untuk mengetahui tentang dunia Jepang baik entertainment maupun pendidikan. Imron adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris di UIN Sunan Ampel Surabaya. Rasa penasaran akan pendidikan di  negeri Sakura itu benar-benar berhasil membuat mimpi-mimpinya menjadi nyata. Ia berusaha keras meskipun berkali-kali proposal risetnya ditolak, ia tetap semangat dan percaya bahwa ia bisa mendapatkannya. Setelah melewati rintangan yang panjang, akhirnya ia berhasil diterima di Hiroshima Univeristy di jurusan pendidikan. Percayalah pada mimpimu maka mimpimu tak akan mengecewakanmu adalah motto hidupnya.

Kisah inspiratif yang terakhir adalah kisah dari Ediyanto sebagai seorang guru fisika. Ediyanto yang mengawali karirnya menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) di sekolah kejuruan terbaik di Malang selama 3 tahun. Dalam waktu 3 tahun itu, beliau sudah berhasil mengantarkan siswa-siswa didiknya berprestasi di bidang akademik. Sebut saja, di kejuaraan Lomba Kompetensi Siswa di bidang olimpiade fisika, beberapa kali beliau berhasil membimbing siswanya hingga juara di tingkat Provinsi dan Nasional. Di bidang karya ilmiah berhasil masuk dalam Indonesian Science Project Olimpyad (ISPO) sebagai finalis dan di tingkat internasional telah berhasil membawa Indonesia sebagai terbaik ke-4 di ajang Taiwan International Science Fair. Siswa-siswanya di didik utnuk pantang menyerah dan semangat menuntut ilmu. Pria kelahiran Sampit 33 tahun yang lalu ini, sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di Hiroshima University jurusan pendidikan (Educational Development, Graduate School for IDEC). Dan sebelumnya beliau menempuh pendidikan S2 nya di jurusan pendidikan Fisika di Universitas Negeri Malang.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: