jump to navigation

Dosen yang Menginspirasi Jilid 2 6 Juli 2011

Posted by yorigroup in Liputan Khusus.
trackback

Dosen yang Menginspirasi Jilid 2

Saya tidak menyangka artikel saya sebelumnya yang berjudul Dosen yang Menginspirasi menjadi tulisan terpopuler untuk bulan Juni 2011. Memasuki bulan Juli 2011 ini saya mempersembahkan tulisan yang serupa namun dengan sosok yang berbeda. Siapakah Sosok itu? Beliau adalah Ir. Yanto Suryadhana yang lebih akrab di sapa Pak Yanto. Pak Yanto adalah dosen senior di Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dan kebetulan di bulan Juli tahun 2011 beliau purna tugas sebagai dosen. Setahu saya selama selama tahun ajaran 2010-2011 Pak Yanto mengajar tiga mata kuliah yaitu PTE (Pengantar Teknik Elektro), Sistem Broadcasting dan Elkom (Elektronika Telekomunikasi).

Pak Yanto Suryadhana saat menjelaskan materi kuliah

Ir. Yanto Suryadhana

Jika ada pemilihan dosen terfavorit pasti Pak  Yanto menjadi salah satu nominasi terkuat. Alasan pertama adalah beliau adalah dosen yang sangat easy going alias sangat menyenangkan. Mata kuliah Broadcasting dan Elkom adalah mata kuliah yang membutuhkan analisis hitungan dan analisis studi kasus yang mendalam, namun beliau mengajar dengan sangat menyenangkan bahkan seolah-olah kita semua yang ada di dalam kelas tidak kuliah. Beliau sangat mengerti kondisi mahasiswa dengan amat sangat jarang sekali bahkan hampir tidak pernah mengeluarkan contoh soal hitungan. Wajar saja dalam 1 minggu perkuliahan mahasiswa sudah dipenuhi oleh rumus-rumus dan perhitungan dari mata kuliah lain belum lagi pressure yang diterima dari kegiatan praktikum maupun organisasi kemahasiswaan. Pak Yanto beranggapan bahwa materi kuliah seperti hitungan dan terori dapat dipelajari sendiri dari diktat atau internet. Ilmu kehidupan dan ‘mencari uang’ di kehidupan setelah lulus kuliah tidak akan pernah diajarkan oleh dosen-dosen lain.

Semester genap 2010-2011 kemarin saya mengambil Elkom dan Broadcasting masing-masing 3 SKS. Jadi dalam seminggu saya bertemu Pak Yanto 4 jam. Beberapa teman satu kelas menyebut kuliah Pak Yanto sama seperti kuliah Pengantar Technopreneurship. Bagi mereka yang mengambil Pengantar Technopreneurship  berarti dalam seminggu terasa kuliah Pengantar Technopreneurship tiga kali. Banyak hikmah dan pesan moral yang saya petik dari setiap kuliah yang Pak Yanto berikan. Tapi sayang banyak mahasiswa sering menganggap remeh kuliah Pak Yanto karena mereka menganggap Elkom dan Broadcast persis kuliah PTE dimana setiap mahasiswa sudah ‘dijamin’ dapat nilai A atau paling apes AB. Mungkin para pembaca sedikit kurang percaya, bagaimana mungkin ada seorang dosen yang begitu murah nilai bahkan meskipun mahasiswa tersebut jarang hadir kuliah masih berpeluang mendapatkan nilai AB. Buktinya bisa dilihat dibawah.

Nilai yang Bagus-bagus

Nilai mata kuliah Elektronika Telekomunikasi (klik untuk memperbesar)

Nilai yang Bagus-bagus

Nilai mata kuliah Sistem Broadcasting (klik untuk memperbesar)

Sehari-hari saat mengajar Pak Yanto hanya membawa 1 buku teks Microwave Circuit Design atau 1 buku diktat broadcasting. Buku teks atau diktat hanya dipakai sebagai silabus, materi yang dibahas di kelas sebagian besar adalah hasil browsing. Oleh karena itu Pak Yanto menunjuk satu orang operator yang akan bertugas untuk browsing dan menyiapkan lembar presensi. Dan siapakah yang menjadi operator paling setia untuk semester genap 2010-2011 saat itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah saya sendiri.

Ada banyak sekali hal-hal lucu yang saya ingat selama kuliah berlangsung. Saat menjadi operator di kuliah Elkom saya sedang memakai rompi Daihatsu ditanyai oleh Pak Yanto, “Kok bajumu Daihatsu, Kamu kerja di Daihatsu , ta?”. “Oh enggak Pak”, jawabku. “Tak kiro kerja di Daihatsu. Aku tak beli mobil di kamu ae. Tapi mbayare engko-engko sak elinge.”, jawab Pak Yanto dengan logat surabaya. Kemudian Pak Yanto melanjukan, “Moto saya itu ada tiga, pertama ‘Sugih tanpa bondo’. Kedua ‘Bayar sak elinge’. Terakhir ‘Urip terus gak matek-matek’”. Seketika itu Pak Yanto langsung menyuruh, “Ayo google Sugih Tanpa bondo”. Muncullah ratusan hasil pencarian dari google.

Jika dosen pada umumnya menyuruh mahasiswanya untuk maju ke depan mengerjaan soal begitu juga dengan Pak Yanto. Dalam suatu kesempatan Pak Yanto sedang membahas bidang usaha apa saja yang sangat menguntungkan di Indonesia. Beliau menyebutkan satu per satu mulai pertambangan, indomie, minyak goreng, rokok, jamu, dan salah satunya industri musik. Beliau berpendapat lebih enak jadi pemusik daripada kuliah. Lebih cepat menghasilkan uang. Genjreng-genjreng dapat uang. “Siapa yang di kelas ini bisa main gitar?”, tanya Pak Yanto. Satu kelas bergeming tidak ada yang menjawab. “Kalau gitu siapa yang bisa nggambar gitar? Ayo maju.”, Pak Yanto menurunkan kesulitan pertanyaannya. Tiba-tiba seorang mahasiswi bernama Vivin angkatan 2009 terlambat masuk kelas. Serentak satu kelas, “Nah ini pak bisa”. “Nah ayo maju”, suruh Pak Yanto. Vivin yang datang terlambat jadi kaget kenapa dia disuruh maju.

Klik kanan untuk melihat gambar Vivin

Vivin sedang menggambar gitar di papan tulis

Salah satu hal yang paling saya ingat dari kuliah Elkom adalah Pak Yanto pernah menghitung harga tanah ITS jika semuanya dijual. Harganya sangat mencengangkan yaitu 9 Triliun. Entah dari mana angka itu datang saya hanya heran dalam hati. Pak Anshori, salah satu dosen Telkom di Teknik Elektro, diam-diam mengakui kehebatan Pak Yanto. Pada tahun 1980an ketika Pak Ansori masih kuliah, Pak Yanto pernah meramalkan akan ada telpon yang memiliki tombol dengan huruf alfabet. Dan ramalan Pak Yanto itu telah terbukti dengan hape jaman sekarang dimana tombol angka dan huruf alfabet sudah menjadi satu. Saya juga masih ingat di salah satu kuliah kelas Elkom Pak Yanto pernah meramalkan ITS akan bangkrut 10 tahun lagi (kira-kira tahun 2021). Alasan beliau mengeluarkan statement seperti itu adalah sangat prihatian dengan ITS yang mengalami defisit keuangan sebesar 14 Milyar rupiah. Lebih memalukan lagi berita defisit 14 Milyar itu sempat menjadi berita di harian JawaPos. Semoga ramalan itu tidak terbukti karena akan menyulitkan saya tentunya jika membutuhkan legalisir ijazah S1.

Kuliah Broadcasting lebih menyenangkan daripada kuliah Elkom. Mengapa ? Karena saat kuliah Broadcasting Pak Yanto sering berbagi pengalamannya tentang bisnis dan hobi yang beliau senangi. Saat kuliah memasuki minggu-minggu terakhir, Pak Yanto bercerita tentang seorang karyawan KFC (Kentucky Fried Chicken) yang menjadi juragan restoran cepat saji Rocket Chicken. Kemudian beliau melanjutkan dengan memberikan saran untuk menjadi pengusaha restoran ayam goreng seperti Rocket Chicken. Kalau tidak suka nama Rocket ya diganti Mbok Chicken, saran Pak Yanto. Beliau bercerita usaha makanan tidak akan pernah mati karena setiap orang butuh makan. Tiba-tiba Pak Yanto mengalihkan topik dari ayam goreng menjadi bebek goreng. Seketika itu Pak Yanto menyuruh operator yaitu saya sendiri searching “bebek”  di google. Klik terbukalah sebuah blog peternak bebek asal Mojokerto. “Wah good, bagus”, komentar Pak Yanto. Saya sedikit iseng memberi tahu beliau bahwa admin blog alias peternak bebeknya menuliskan nomor hape di blog. Nomor hape saya zoom dan Pak Yanto langsung menelpon Pak Dody, admin blog. Saya kiran nomor palsu, eh ternyata betul nomor hapenya aktif dan Pak Yanto mendapatkan daftar harga dari peternak bebek asal Mojokerto itu. Semua mahasiswa dalam kelas langsung ketawa kecil. Satu pesan utama dari Pak Yanto yang selalu saya ingat adalah menjalani sesuatu yang kita sukai entah itu berwirausaha atau menjadi karyawan. Beliau bercerita bahwa pada dasarnya tiap bulan hidup kita ditentukan oleh dua hal yaitu pemasukan dan pengeluaran. Berbicara mengenai hobi, Pak Yanto paling sering bercerita tentang kegemarannya membawa kamera kemanapun beliau pergi. Tujuannya jelas untuk merekam atau memotret semua hal-hal menarik yang terjadi di sekitar. Darimana saya tahu? Tentu dari isi memory card kamera digital yang beliau bawa. Pak Yanto sering menyuruh saya untuk “membongkar” memory card kamera beliau saat kuliah Broadcast memasuki menit-menit terakhir. Isinya cukup menarik dan sebagian mungkin terlihat lucu. Ada video konser Mulan Jameela saat launching property di Galaxy Mall, video kereta kelinci (mobil modifikasi yang dipakai untuk mengangkut anak kecil jalan-jalan), ada juga video rekaman mebel Asnagi (kenapa layar laptop harus direkam pakai kamera. Masih lebih enak pakai save as html), ada juga video orang lagi bermain pesawat paralayang yang kebetulan melintas di atas rumah beliau, dan ada juga foto tentang toko di depan rumah Pak Yanto yang kebetulan sedang dibongkar dan besi-besi tua sisa dari puing-puing bangunan dibeli orang Madura.

Hal yang paling saya kagumi dari Pak Yanto adalah beliau selalu datang in time bukan lagi on time. Bahkan pernah suatu ketika kelas masih sepi saat jam 9 yang merupakan jadwal mulai kuliah, namun beliau sudah hadir di kelas. Kalau biasanya mahasiswa menunggu dosen (yang terlambat ) datang, sekarang kondisinya terbalik yaitu dosen menunggu mahasiswa (yang terlambat). Pada suatu kesempatan beliau pernah membawakan alat yang bernama LNA dan LNB, alat yang sangat penting dalam sistem receiver parabola. Saya sendiri juga baru tahu kalau alat yang ada di pusat fokus parabola itu namanya LNB. Ketika  kuliah broadcasting beliau juga pernah membawakan sebuah kotak pintar yang bernama Zest Media Player. Beliau meminta tolong mahasiswa di kelas broadcasting khususnya saya sebagai operator untuk mengajari bagaimana menggunakan sebuah media player seperti Zest yang beliau bawa. Beliau berpendapat sayang sekali banyak alat-alat canggih tapi masyarakat Indonesia alias user  belum siap menggunakannnya.

Saya sebagai penulisa meminta maaf jika ada pihak yang (mungkin ) tersinggung dengan tulisan ini. Dan jika pembaca adalah salah satu mantan mahasiswa yang pernah mengambil mata kuliah Bapak Yanto Suryadhana saya yakin Anda juga punya kisah menarik masing-masing.

Sebagai bonus. Silahkan download video bagaimana suasana kelas saat kuliah berlangsung.
Link Mediafire (gunakan IDM/Internet Download Manager untuk mempercepat download)

http://www.mediafire.com/?r15h83fqtrbb9zc

Komentar»

1. johnterro - 5 Agustus 2011

saya belum pernah kuliah dengan beliau
sepertinya menarik, namun apa daya beda bidang studi 🙂

2. zega nias utara - 15 Februari 2012

Pak, sy minta artikel bagaimana cara mengajar yang baik di perguruan tinggi. tks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: